Komersialisasi Agama di Bulan Ramadhan

Bulan ramadhan merupakan bulan yang dianggap suci oleh umat Islam. Ribuan bahkan jutaan umat islam diseluruh pelosok dunia sangat antusias menyambutnya. Segala macam hal berbau agama dikumandangkan dengan secara terus – menerus. Media pun tak ketinggalan ikut menampilkan hal – hal yang berbau religius. Tayangan sinetron religius, komedi, sampai sajian dakwah oleh ustad hampir tiap hari muncul. Entah ini merupakan indikator semakin religiusnya masyarakat atau ada pemanfaatan momentum untuk meraup keuntungan yang besar.

Media sebagai “agen kapitalis” menjadi sarana yang amat sangat efektif untuk memberikan info ke masyarakat. Profit oriented pun menjadi salah satu bagian dari media saat ini. Momentum Ramadhan yang amat sangat ditunggu oleh sebgain besar masyarakat terutama di Indonesia yang mayoritas muslim menjadi lahan yang menjanjikan untuk meraup keuntungan. Atau dalam bahasa populernya di kenal dengan komersialisasi agama.

Komersialisasi sendiri artinya perbuatan menjadikan sesuatu menjadi barang dagangan.  Komersialisasi agama berarti menjadikan agama sebagai barang dagangan untuk meraup keuntungan. Artinya media menjadikan agama sebagai jualan mereka pada bulan Ramadhan. Ini sangat terlihat setiap hari ditelevisi. Berbagai acara ramadhan dikemas sedemikian rupa, mulai dari sinetron bernafaskan agama, komedi, sampai acara pergelaran musik pun tak lepas dengan jualan agama. Media dan production house berlomba – lomba meraup keuntungan dengan menjual agama. Seolah – olah media menjadi semakin agamis, namun yang menjadi tujuan mereka tetap keuntungan dan kepentingan pemilik modal.

Selain media, pemanfaatan bulan Ramadhan ini juga dilakukan oleh ustad – ustad di TV. Mereka hampir tiap hari terlihat memberikan ceramah di televisi dengan tampilan yang begitu menarik. Pakaian yang mewah dan tampilan yang glamor. Ironis memang melihat ustad “seleb” yang berpakaian bak selebriti namun menyuarakan dakwah keagamaan. Agama yang mengajarkan kesedarhanaan tak lagi menjadi tolak ukur para ustad  “seleb”, yang mereka perhatikan justru tampilan menarik dan gaya hidup yang hight. Tak pelak ustad pun kini banyak yang memanfaatkan Ramadhan dengan mematok tarif ceramah yang mahal. Agama yang menjadi pusat perhatian di masyarakat pada bulan Ramadhan dimanfaatkan para ustad untuk berjualan agama untuk mendapatkan keuntungan finansial yang tinggi. Alhasil agama menjadi penghias saja, menjadi ritual yang menjanjikan pada bulan Ramadhan, dan seolah kehilangan esensi yang sesungguhnya.

Semua ini memang terjadi dan kapitalisme masuk disela-sela agama. Komersialisasi agama menjadi hal yang menjanjikan terutama pada momen-momen tertentu seperti Ramadhan. Dan semuan itu dipicu oleh konsumerisme yang semakin tinggi dan tuntutan gaya hidup yang mewah. Inilah yang oleh Fukuyama dinamakan sebagai kapitalisme tingkat akhir, dimana masyarakat tak peduli lagi dengan apapun yang mereka pedulikan adalah gaya hidup.

Saatnya agama kembali membumi, hadir dengan kesederhanaannya. Menjadi ruh dalam jiwa – jiwa sederhana nan bersahaja, jauh dari hingar bingar dunia yang semakin glamor.

About these ads

About sosmalik
Asli orang "purba", Purbalingga maksudnya. Sekarang mengajar sosiologi di SMANIK...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 311 other followers