catatan ketika hujan sore…

Rabu, 2 November 2011 pukul 16.25, masih berada di sekolah sendirian. Tepatnya di sebuah ruang agak sempit sebelah media. Ya…sore hari seorang diri, tak bisa pulang kos karena terjebak hujan yang cukup lebat. Jarang sekali berada dalam situasi seperti ini, suasana yang mengaduk – aduk perasaan dalam hati. Haha… sok melankolis. Biarlah…tapi rasa sendiri dalam lebatnya hujan selalu membuka memori akan massa lalu bersama kawan.
Kulihat hujan diluar sana dengan penuh haru, namun suka. Lho…yang seperti itulah. Hujan seakan melambaikan tangannya kepadaku, seakan mengajak untuk bercengkerama mengenang masa kecil atau paling tidak menghilangkan semua beban pikiran yang tengah melekat di otak. Dengan penuh suka, senyum kecil, dan mata sediki berair rasanya kaki ini ingin berlari menyambut lambaian ajakan dari sang hujan. Kubayangkan bisa bermain dan bercengkerama dengan hujan, namun apa yang terjadi????? Jreng…jreng…jreng… *biar keliatan dramatis*.
Yah…aku diingatkan dengan tubuh yang tak lagi bisa bersahabat dengan hujan. Tubuh ini sudah mulai manja, sudah tidak mau lagi diajak bercengkerama dengan hujan. Yah…akhirnya kuputuskan mengikuti kata tubuh walau hati ingin ikut bersama hujan, berbasah-basahan dan berteriak “I’m free…
Akhirnya aku hanya bisa berdiri didepan jendela, tersenyum sendiri (ngga gila lho), sambil perlahan menghisap racun yang memanjakan tubuhku tadi. Kulihat hujan begitu senang, hujan bermain sevara riang dengan dedaunan hijau yang sudah lama memendam kangen kepada hujan. Sudah sekian lama hujan tidak datang menjenguk dedaunan, akhirnya mereka berjumpa lagi dengan penuh suka cita. Keceriaan membuatku bergairah, dan kuputuskan ingin berpuisi???
Namun lagi-lagi kutanya pada diri sendiri, puisi yang nanti kubuat untuk apa dan siapa??? Mukapun kembali manyun dan dahi berkerut sembari berucap dalam hati, untuk apa ya, untuk siapa ya. Ah…kenapa kupikirkan hal itu. Ini jadinya kalo banyak berfikir, semua tak menjadi nyata, ngga muncul karya.
Akhir cerita, aku hanya bisa bernyanyi dan berelegi seperti Lagunya “efek rumah kaca”. Sembari berharap setelah hujan muncul pelangi yang indah, berwarna – warni, yang selalu setia menunggu hujan reda.
“selalu ada yang bernyanyi dan berelegi dibalik awan hitam, semoga ada yang menerangi sisi gelap ini, menanti seperti pelangi setia menunggu hujan reda. Aku selalu suka sehabis hujan….”

SMAN1K, 2 Nov 2011, 16:25

About sosmalik
Asli orang "purba", Purbalingga maksudnya. Sekarang mengajar sosiologi di SMANIK...

2 Responses to catatan ketika hujan sore…

  1. afitsetiadi says:

    hehe.. pertamax..
    saatnya merenung dan mengenang..
    itulah ketika terjebak hujan.
    selamat menikmati gan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s