Para petinggi itu berpesta

Hari ini manusia Indonesia sedang dipertontonkan sebuah pesta meriah nan mewah dalam pernikahan sang “pangeran” negeri ini. Pakaian glamor, mobil mewah, hidangan nan lezat, serta ornamen gedung yang indah mewarnai pesta sang “pangeran”. Terlihat begitu istimewa sekali pesta pemimpin negeri ini. Sampai – sampai pedagang disingkirkan, seolah sampah, benalu, atau pengganggu yang akan mengotori kemegahan, keglamoran, dan keindahan pesta. Ya…nasib pedagang senayan (tempat disekitar pesta) diabaikan. Mereka terusir karena dianggap bisa mengganggu perjalanan para borjuis, petinggi, dan bahkan wakil mereka sendiri di Senayan.
Semua yang berada di sana (pesta) terlihat begitu gembira penuh suka cita. Handai taulan, keluarga, serta kerabat sang “raja” negeri ini begitu “sumringan” dalan kemegahan pesta. Lalu bagimana dengan rakyat???
Ah…rakyat negeri ini tak paham dengan yang namanya pesta. Yang rakyat paham itu bagaimana caranya untuk makan hari ini, yang rakyat tahu adalah bagaimana cara agar tidak lagi tinggal dikolong jembatan, yang mengerti adalah bagaimana cara agar rumah mereka tak di gusur. Namun itupun tak semua rakyat tahu.
Rakyat tahunya apa???
Yang rakyat tahu adalah negeri ini pemimpinya kaya raya, yang rakyat tahu negeri ini banyak koruptor, yang rakyat tahu tanah papua kelaparan, tanah papua mengalami kemiskinan, yang rakyat mengerti itu mereka susah mencari pekerjaan, yang mereka tahu pendidikan mahal. Itu yang rakyat tahu wahai sang “raja”.
Lalu, sang “raja” dan para petinggi tahunya apa? Tahunya bagaimana korupsi? Tahunya bagaimana menang di pemilu? Tahunya bagaimana lolos dari jeratan hukum? Tahunya bagaimana menguras kekayaan alam papua?
Itukah yang kalian ketahui?
Tapi yang pasti, saya tahu bahwa para petinggi ini tahu bagaimana mempertontonkan pesta bagi rakyat. Kemiskinan dan kegelisahan rakyat diberi tontonan keindahan, keglamoran, dan kemewahan pesta. Rakyat hanya melihat lewat layar kaca sambil melamun, dan bingung kenapa petinggi ini begitu bahagia dalam pesta megah. Rakyat hanya bisa melihat tak mampu mersakan. Jangankan merasakan, bermimpipun rasanya susah.
Ah…engkau begitu pintar pemimpinku. Engkau mampu memprlihatkan kekayaan negeri ini, namun tak mampu mengajak rakyat untuk merasakanya. Engkau telah mempertontonkan pesta glamormu pada kami, dan kami tak marah. Papua pun tak marah. Hanya kecewa…
Maaf rakyat papua, maaf penghuni kolong jembatan. Kami paham apa yang kalian rasakan. Kekecewaan kami di sini adalah secuil dari apa yang dirasakan kalian.
Terima kasih wahai pemimpin, telah sekejap memperlihatkan pesta (bagai surga) kepada kami. Walau kami tak rela….

About sosmalik
Asli orang "purba", Purbalingga maksudnya. Sekarang mengajar sosiologi di SMANIK...

6 Responses to Para petinggi itu berpesta

  1. sakrilegi says:

    namanya juga elit
    ntar kita pilih lagi abis itu kita tuntut lagi, pilih lagi tuntut lagi

  2. Dhika MCR says:

    Kalo pedagang (baca: rakyat) dibiarkan dagang di Senayan dikhawatirkan Paspampres-nya kebobolan lagi bang…:D

    Mari memaksimalkan perjuangan di jalan yang kita bisa bang…semangat!
    m/

    • sosmalik says:

      mari bang…
      mengkritisi itu bagian dari perjuangan juga kan bang.

      Kita tak ingin jurang pemisah antara elit negeri ini dengan rakyat sangat jauh.

      Di saat papua merana, kaum miskin nestapa, elit bersuka cita !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s