Cerita Hari Ini: “dari ketilang polisi sampai dapat buku”

Ini ceritaku hari ini. Hah…capek, kesel, tapi seneng juga. Menuju ke semarang pukul 10.00 pagi niat awalnya hanya beli bola futsal buat futsal guru-guru SMANIK, soalnya bola yang biasa di pake sudah mulai rusak. Dengan semangat berangkat ke semarang, tanpa pikir panjang langsung menuju ke Citra Land. Muter-muter sampe kaki pegel ngga dapet-dapet tu bola, akhirnya keluar deh dari Mall setelah sekian jam muter. Akhirnya setelah beberapa jam kaliling mall dapat juga tu bola, tapi bukan di dalam Mall tapi di belakang mall, tepatnya di Leonard. Hahaha… Capeknya mubadir.
Setelah dapat bola langsung menuju ke rencana berikutnya. Ke Semarang tak lengkap kalo nggak mampir toko buku. Akhirnya mampir deh ke Gramedia. Hampir dua jam di Gramedia hanya baca – baca buku, karena buku yang ingin di beli ngga nemu. Dari pada kecewa, ya saya baca – baca buku yang ada aja, tanpa beli. He… Lumayan dapat ilmu gratis.
Kuputuskan untuk akhiri perjalanan di Gramedia dan menuju ke Toga Mas. Dalam perjalanan dari Gramedia ke Toga Mas melewati beberapa Trafic Light. Nah pada Trafic Ligth terakhir menuju Toga Mas, lampu yang tadinya hijau tiba-tiba berganti kuning, dan akupun tetep meneruskan jalan karena masih kuning pikirku. Dengan santai akupun melaju pelan, namun tiba – tiba suara peluit terdengar dibelakangku. Oh…my God ada Pramuka di belakang, eh Polisi maksudnya. Ya soalnya pakaianya agak mirip antara Pramuka dengan Polisi. Singkat cerita akupun dipaksa berhenti dan polisi menuduh saya melanggar lalulintas, STNK plus SIM pun diambil. Ah…sial, kubilang dalam hati.
Akupun kemudian menuju pos polisi sesuai instruksi polisi tadi. Sambil menuju pos polisi tadi, akupun sudah menduga-duga apa yang akan terjadi di Pos, dan akupun mulai menyusun stratgi untuk menghadapi trik dan intrik si polisi. Nah sampai di pos itu, prekdisikupun menjadi kenyataan. Polisi mengintrogasi seakan seorang polisi yang membela kebenaran (ingat seakan). Ya…pasal-pasalpun dikeluarkan untuk membuktikan bahwa saya salah, dan hukumanya harus ke pengadilan atau bisa jadi membeyar denda di bank. Hahaha… Dalam hati kubilang “ah…lagu lama, kampret ni polisi”. Akupun mencoba melobi seperti biasa, ya seperti biasanya menghadapi polisi yang lagi perlu duit di jalanan. Anda pasti tau sendiri *sudah rahasia umum. Sebenarnya ini bagian dari strategiku. Polisipun menolak, dan mengatakan bahwa polisi sekarang beda dan tidak boleh ada uang damai. Jadi harus bayar uang senilai maksimal 500 ribu di bank atau sidang di pengadilan. Tapi aku tahu, ini adalah bagian dari tipu muslihat polisi saja.
Ok…akupun akhirnya menyanggupi untuk sidang di pengadilan. Pikirku kalau benar harus bayar 500ribu, lebih baik kubayar di pengadilan dari pada uangnya buat polisi busuk ini. Setelah aku bersedia untuk sidang di pengadilan, ternyata sesuai prekdisiku juga polisi menawarkan bantuan untuk menitipkan (bahasa halus) uangnya ke pengadilan cukup seratus ribu saja. Dalam hati pun aku ketawa. Hahaha…ternyata polisi belum berubah, masih doyan duit rakyat. Wajar, masuknya mahal coy. Wakaka….
Otaku pun mencoba strategi lagi, dengan menolak dan tetep ingin sidang. Dan parahnya lagi, polisi ini pun bilang” ya udah mas, 50 ribu ngga apa”. Semakin ngakak aja ni hati liat kelakuan polisi. Karena waktu sudah jam 3 sore, bukupun belum dapat dan mendung juga, akhirnya dengan berat hati dan menyesal akupun beri 50 ribu kepada polisi, tapi untuk menenangkan penyesalan dan kekecewaan, pemberiaan itu saya ibaratkan sodakoh kepada orang miskin ya seperti memberi uang ke pengemis di jalan sehingga rasa kecewa atau berat hati tak begitu membara. Maaf pak Pramuka eh pak Polisi, anda tadi saya ibaratkan dengan pengemis soalnya minta – minta dijalan si. Maaf ya…
Yah…dengan tersisa rasa kesal dan menyesal karena telah ikut dalam permainan busuk polisi, akhirnya akupun meluncue ke Toga Mas. Kesal, capek, dan laper membuatku buru-buru mencari buku yang kuinginkan. Tak perlu liat semua, langsung aku menuju komputer pencarian. Ku ketik judul buku Dunia yang dilipat, lalu muncul tulisan pencarian anda berhasil dan tertulis Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan Pengarang Yasraf Amir Piliang. Lalu kuketik lagi judul buku Bumi Manusia, ternyata ada juga dan muncul Bumi Manusia, Pengarang Pramoedya Ananta Toer. Nah kebetulan ada karyawan di toko buku itu lewat, cewek cantik dan ku tanya buku ini ada dimana. Cewe cantik itu bilang” Mari mas saya antarkan”, sambil senyum akupun ikuti cewek tadi. Dan apa yang terjadi????
Yes…yes…yes kedua buku itu ada dan langsung kuambil. Saking senengnya aku langsung ke kasir danlangsung kubayar, samapi tak sempat ucapkan terima kasih sama cewek cantik tadi. Ah…nyesel. hehe…
Yah…inilah cerita hari minggu. Sempat kesel karena ketemu preman jalan (eh Polisi maksudnya). Tapi akhirnya seneng dapat dua buku yang diinginkan, lumayan buat obat kesel sama pramuka (eh salah lagi: polisi maksudnya).
Ah…sudahlah, kini kunaikmati buku yang kudapatkan. Ya, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan: Yasraf A. Piliang dan Bumi Manusia: Pramoedya Ananta Toer.

About sosmalik
Asli orang "purba", Purbalingga maksudnya. Sekarang mengajar sosiologi di SMANIK...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s