May Day: Buruh (masih) sexy di ruang diskusi

1 Mei seluruh kaum buruh di dunia merayakan apa yang disebut dengan May Day atau hari buruh Internasional. Hari buruh ini adalah sebuah hari libur (di beberapa negara) tahunan yang berawal dari usaha gerakan serikat buruh untuk merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial para buruh. Dalam sejarahnya Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei. Aksi tersebut kemudian diikuti oleh buruh di berbagai Negara. Kemudian dalam Kongres Sosialis Dunia di Paris membuat resolusi bahwa tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai Negara. May day adalah sebuah gerakan yang dilakukan oleh kaum buruh (pekerja) untuk memperoleh pengaruh dan kendali ekonomi – politis hak – hak industrial yang semakin dikuasai oleh kaum kapitalis (pemilik modal).

May day (hari buruh internasional) adalah hari yang “sacral” bagi buruh, hari dimana buruh memperingati keberhasilan perjuangan kaum buruh dalam menancapkan pengaruhnya dalam dunia ekonomi maupun politik. May day di berbagai Negara termasuk di Indonesia sering dirayakan dengan aksi turun ke jalan (demontrasi) oleh buruh untuk menuntut kesejahteraan yang menjadi hak mereka. bahkan hamper tiap tahun tuntutan kesejahteraan selalu dibicarakan dalam memperingati may day. Ini menjadi indikasi bahwa kesejahteraan buruh ternyata masih belum tercapai. Buruh masih mengalami kesulitan, mulai dari upah yang rendah, jaminan sosial yang kurang, bahkan eksploitasi yang berlebihan yang dilakukan oleh kaum kapitalis (pemodal).

Buruh sebenarnya menjadi topic yang dari dulu menarik dan sexy di perbincangkan. Marx dan para pamikir kiri selalu membicarakan kaum buruh dan menganggap buruh sebagai tonggak ekonomi yang yang harus berkuasa baik secara ekonomi maupun politik. Dalam dunia yang kapitalis, Marx mengatakan buruh akan selalu berhadapan dengan kaum kapitalis (pemilik modal). Dan akan selalu terjadi hubungan yang vis a vis dan timpang. Bahkan Marx mengatakan bahwa buruh mengalami apa yang disebut sebagai alienasi dari kemanusiaanya. Karena sangat bergantung pada kaum pemilik modal (kapitalis).

Marx, dalam George Ritzer mengungkapkan 4 jenis alienasi dalam sistem kapitalis, 1) aktivitas pekerjaan ditentukan oleh pemilik modal dengan imbalan upah, 2) keterasingan para pekerja atas apa yang diproduksinya, 3) para pekerja tidak memiliki kegiatan sosial dengan sesamanya, dan 4) potensi yang dimiliki oleh setiap pekerja menjadi tidak berarti. Oleh karena itu Marx pernah mengatakan lagi bahwa buruh harus bersatu dan mengambil alih kekuasaan untuk mewujudkan masyarakat yang sosialis. “Fatwa” Marx ini selalu menjadi bahan diskusi baik akademis maupun diskusi ringan yang menarik. Tak sedikit diskusi tentang buruh dilakukan dan seakan menjadi bahan yang selalu “sexy” untuk didiskusikan. Mulai dari gerakan sampai dengan kesejahteraan selalu menjadi topic yang paling menjual terutama bagi gerakan kiri.

Di Indonesia tema buruh sering bahkan terlampau banyak didiskusikan. Para stake holder mulai dari pemerintah, pengusaha, sampai aktivis pun sering membicarakannya baik di parlemen, pemerintahan, perusahaan, di sudut kampus bahkan dipojok warung kopi. Namun apa yang terjadi???

Ternyata buruh hanya “sexy” dalam ruang diskusi. Realitasnya buruh masih menjadi obyek eksploitasi kaum pemilik modal (kapitalis). Buruh masih jauh dari sejahtera bahkan semakin terjepit dengan adanya sistem kontrak, outsoursing, dan masih banyak lagi yang menyulitkan buruh. Padahal buruh adlah elemen yang sangat penting dalam ekonomi industrial. Tanpa buruh ekonomi akan lumpuh, kaum pemodal (kapitalis) akan kewalahan. Ini yang seharusnya menjadi bargaining position yang harus terus di perjuangkan agar buruh tidak hanya diperas tenaganya. Kalau perlu tesis – tesis Marx harus diperjuangkan dengan segera. Sehingga buruh tidak hanya “sexy” dalam ruang diskusi, namun dalam realitasnya juga “sexy”. Happy May Day untuk kawan-kawan buruh Indonesia dan dunia.

Pustaka:

www.wikipedia.org

George Ritzer: Teori sosiologi modern

About sosmalik
Asli orang "purba", Purbalingga maksudnya. Sekarang mengajar sosiologi di SMANIK...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s