Merenungi Kebangkitan nasional

20 Mei telah diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Puluhan tahun lalu tepatnya 20 Mei 1908 menjadi awal kebangkitan nasional Indonesia sebagai usaha untuk membangkitan kekuatan nasional dalam memperjuangkan kemerdekaan. Kini setelah mitos yang bernama kemerdekaan telah dicapai selama 67 tahun apa lagi yang perlu dibangkitkan. Ini pertanyaan yang menarik sebagai refleksi kebangkitan nasional. Lalu bagaimana kita memaknai kebangkitan nasional itu sendiri? Ini yang perlu kita pikirkan bersama.

Kita tahu bangsa ini telah mengalami berbagai macam peristiwa yang boleh dikatakan mengancam keuntuhan nasional. Mulai dari pemberontakan PKI yang walaupun masih simpang siur, pemberontakan atas nama agama seperti NII dan RMS, ataupun gerakan kedaerahan seperti GAM dan OPM. Namun bangsa ini sampai sekarang masih utuh dan masih bernama NKRI sampai sekarang ini. Ini luar biasa dengan keanekaragama agama, suku, ras, budaya, dan berbagai potensi ancaman disintegrasi. Indonesia nyatanya masih utuh, apalagi dibandingkan dengan negara lain yang serupa dengan Indonesia. Boleh dikatakan Indonesia satu – satunya negara dengan luar biasa beragamnya yang masih utuh. Kita tahu uni sovyet sudah pecah, lalu Yugoslavia sudah hilang dan menjadi negara – negara baru seperti serbia, kroasia, bosnia dll, dan pecahnya negara – negara tersebut pun diawali dengan peperangan berdarah.

Lalu kenapa bangsa atau nation yang bernama Indonesia ini “belum” bubar? Itu tak lain karena kita semua telah sepakat. Sepakat untuk diikat oleh satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa dalam naungan Pancasila. Bahasa inilah yang sesungguhnya benar – benar menyatukan kita. Kita punya bahasa batak, bahasa sunda, bahasa ambon, bahasa papua, bahkan bahasa jawa yang dulu menjadi bahasa yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Namun apa yang terjadi bahasa jawa sebagai bahasa yang besar dengan peduduk paling besar serta bahasa – bahasa lainnya mau “mengalah” untuk sepakat bahwa bahasa melayu yang bukan mayoritas dijadikan akar dari bahasa Indonesia sekarang ini. Dengan kita berbahasa Indonesialah kita menjadi merasa satu keluarga, satu bangsa. Dengan berbahasa Indonesialah kita bisa memahami orang papua, orang medan, orang lombok dll. Ini adalah warisan yang luar biasa yang harus kita pertahankan, terutama dari ancaman – ancaman yang datang silih berganti.

Berbicara bahasa, saat ini banyak tantangan yang harus di perhatikan. Bahasa bukan saja bahasa lisan, namun bisa berbagai macam seperti bahasa tubuh, bahasa teknologi, dan lain-lain. Terkait bahasa tubuh kita sedang mengalami apa yang dinamakan euforia korea. Tubuh anak negeri kita ini sedang dibaluti dengan segala pernak – pernik korea. Pakaian yang melekat di tubuh bahkan tubuhnya pun sudah tak menggambarkan lagi bahasa tubuh orang Indonesia tapi bahasa tubuh korea. Sementara bahasa teknologi juga menjadi ancaman, kita tahu di dalam teknologi seperti komputer dan sejenisnya. Bahasa yang digunakan semua menggunakan bahasa Inggris, sehingga bahasa teknologi ini seakan sudah mendarahdagingkan bahasa inggris dalam penggunaan teknologi. Kita bahkan lupa atau justru malah tidak tahu ketika itu diganti dengan bahasa Indonesia. Semua ini adalah tantangan yang harus dihadapi. Jika ini berhasil di atasi maka sekali lagi Indonesia mengalami apa yang dinamakan kebangkitan nasional.

Bahasa agama pun mengalami sebuah tantangan dimana bahasa agama ini yang dulu disatukan dalam Pancasila dan UUD sekarang muncul bahasa agama yang semakin ekslusif dan intoleran. Ini ditandai dengan munculnya aksi kekerasan atas nama agama sebagai reaksi dari perbedaan agama. Bahasa politik pun mengalami apa yang dinamakan disorientasi. Bahasa politik tidak lagi membicarakan tentang bagaimana mengelola bangsa ini dengan baik, namun kita lenih akrab dengan bahasa uang dalam politik. Siapa yang unya uang maka itu yang lebih dimengerti oleh para politikus. Musyawarah mufakat dalam lembaga politik di negeri ini mulai digantikan dengan sistem voting yang hanya adu kuat dalam jumlah, sehingga bukan memunculkan apa yang dinamakan keputusan yang rasional untuk kemaslahatan bersama, namun yang muncul adalah keputusan transaksional.

Bahasa ekonomi malah telah lama berjalan menjauh dari amanat konstitusi nasional kita. Amanat konstitusi yang telah jelas mengatur sstem ekonomi Indonesia hampir menjadi hanya sebuah tulisan saja. Pada tujuan negara dalam pembukaan UUD 1945 antara lain adalah memajukan kesejahteraan umum. Lalu dalam Pancasila sila ke 5 jelas berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, dan pasal 33 ayat 2 UUD 1945 menyebutkan kurang lebihnya adalah bahwa kekayaan alam dan segala hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai negara dan dikelola untuk kesejahteraan rakyat. Dari tiga acuan tersebut jelas bahwa bahasa ekonomi nasional Indonesia adalah “welfare state” atau negara kesejahteraan, artinya negara wajib memberikan kesejahteraan untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Kekayaan alam yang ada dikelola dengan tujuan untuk menyejahterakan rakyat. Ini jelas amanat konsitusi nasional Indonesia. Namun yang terjadi  apa? Bahasa ekonomi kita lebih fasih dengan bahasa ekonomi liberal – kapitalis. Kekayaan alam yang dimiliki bukan dikelola oleh negara untuk kemakmuran rakyat tapi jusru dikelola swasta asing yang merugikan rakyat. Freeport, Exxon, Chevron, dll telah dibiarkan bahkan diizinkan oleh negara untuk merampas kekayaan yang ada di Indonesia. Mereka membawa kekayaan kita untuk kekayaan mereka sendiri, negara hanya dapat bagian kecil, sementara rakyat tak dapat apa – apa. Ini pendholiman yang amat sangat keterlaluan. Sementara itu BUMN juga di privatisasi, ciri khas ekonomi liberal.

Bahasa kuliner juga tak luput dari tantangan. Indonesia mempunyai kuliner yang luar biasa banyak, namun sekarang ini tantangan dan ancaman datang dari makanan – makanan yang datang dari luar. Mc Donal, KFC, Coca cola, dll perlahan menjadi bahasa yang akrab dengan masyarakat kita terutama kelas menengan ke atas. Yang lebih mengerikan adalah bahasa makanan bernama Mc Donald, KFC dan sejenisnya telah menjadi idola, dipuja, diagungkan, dan seolah direpresentasikan oleh masyarakat kita sebagai makanan berkelas. Ini pembodohan yang kurang kita sadari.

Tak lupa bahasa pendidikan juga sedang mengalami permasalahan. Dimana bahasa pendidikan kita lebih sering membicarakan uang dan nilai – nilai berupa angka. Bahasa pendidikan lainya yang sekarang terjadi adalah bahasa eksak center, siapa yang pandai eksak dialah yang disebut pandai, sementara bahasa sosial, seni, budaya kurang dianggap. Atau lagi bahasa angka yang semakin populer dan menjadi tujuan dalam pendidikan yang dicerminkan dengan adanya ujian nasional. Bahasa pendidikan semakin liberal, sekolah dan perguruan tinggi dikelola dengan manajemen perusahaan yang semakin “profit oriented”. Pendidikan dianggap sebagai produk layanan jasa sehingga, rakyat dianggap sebagai konsumen. Sehingga untuk memperoleh produk jasa itu harus membayar dengan sejumlah uang yang besar. Ini mengerikan !!!

Sekali lagi itu semua adalah sebuah tantangan kalau tidak mau disebut ancaman. Saya, anda, kita, dan seluruh anak negeri yang masih percaya pada sebuah “nation” bernama Indonesia punya tanggung jawab masing – masing untuk kembali mengupayakan kebangkitan nasional sesuai dengan kemampuan yang dimiliki masing – masing. Akhirnya saya ucapkan selamat Hari Kebangkitan Nasional. Semoga Indonesia lebih baik. Amin…

About sosmalik
Asli orang "purba", Purbalingga maksudnya. Sekarang mengajar sosiologi di SMANIK...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s