SISWA ZOMBIE

images“Siswa zombie”, itulah kritik terhadap situasi di dalam pendidikan yang sering kali mati senyap. Istilah dan tulisan ini saya adopsi sebagian besar dari tulisan teman saya Agus Yuliono yang menulis tentang “Mahasiswa zombie”, nah kali ini konteksnya untuk siswa maka dinamakan dengan istilah “siswa zombi”. Ini ibarat kalah telak saat bermain game komputer “Plants vs Zombies”, pasukan zombie berhasil memasuki ruang kelas dan muncul tulisan besar “The Zombies Ate Your Brains!”. Kondisi ini seperti yang terjadi dalam pembelajaran di kelas. Tak jarang bahkan sering terjadi banyaknya siswa datang ke sekolah, kemudian masuk kelas dengan pikiran yang kosong. Ya, bisa ditebak ketika masuk kelas dengan pikiran kosong tanpa belajar dahulu yang terjadi adalah diamnya siswa mengikuti pembelajaran, artinya tidak aktif dalam proses belajar mengajar dikelas. Hal ini berbanding terbalik ketika di luar kelas dengan ramainya obrolan, status FB maupun Twitter. Isinya pun didominasi dengan kegalauan yang banyak melanda remaja yang sejatinya tidak esensial.

Hal ini banyak terjadi salah satunya dikarenakan ada miskomunikasi dan saling menyalahkan. Guru sering menyalahkan siswanya, juga sebaliknya siswa juga terkadang menyalahkan gurunya. Guru sering menganggap siswa kurang membaca dan terlalu pasif. Sedangkan siswa menganggap guru yang membosankan, disteachia (kesalahan dalam mengajar), ataupun kurang merangsang rasa kepenasaran intelektual. Padahal menurut Gene Bylinsky, sekolah maupun kampus seharusnya menjadi seperti oasis di tengah padang pasir yang kering. Oasis yang memberikan tempat untuk memenuhi segala dahaga ilmu pengetahuan, selalu memberikan penyegaran dan semangat dalam kreativitas dan pemecahan masalah. Perlu berbagi oasis antara guru dan siswa dalam proses saling belajar karena semuanya adalah manusia pembelajar yang “ada bersama” (being together) dalam proses menjadi (becoming) atau berkembang.

Keadaan yang diam, cuek, dan pasif dikelas akan menumbuhkan pembelajaran yang tidak efektif. Siswa seharusnya punya kesadaran dalam diri sebagai seorang pelajar tentang bagaimana pentingnya sebuah ilmu. Dan ilmu pun harus kemudian dibicarakan sehingga tidak pasif yang akhirnya akan menumbuhkan kepasifan, kecuekan, atau yang lebih ekstrim lagi adalah budaya bisu. Proses belajar – mengajar perlu proses dialogis antara guru dan murid, artinya ada dialog atau diskusi yang baik bukan seperti zombie yang diam pasrah menerima perintah.

Lalu bagaimana agar tidak jadi siswa zombie ?

Siswa perlu membaca bagaimana pendidikan yang dialami. Paulo Freire sebagai tokoh pendidikan kritis menyebut matinya proses dialogis sebagai kebudayaan bisu. Apapun alasannya, kebudayaan bisu merupakan bentuk dehumanisasi (kontra humanisme). Pendidikan harusnya menjadi ruang untuk pencerahan, penyadaran dan pembebasan bagi manusia pembelajar untuk bebas berpikir dan berkreasi. Ini harus disadari oleh siswa bahwa siswa sebagai generasi penerus bangsa harus mebiasakan diri untuk tidak diam. Belajar untuk pintar itu penting, namun belajar untuk ikut berkontribusi itu lebih penting.

Siswa atau pelajar harus tahu bahwa Learning by process harus diutamakan, artinya bahwa pendidikan harus dapat mengantarkan manusia pembelajar menjadi kritis dan humanis sehingga bisa menjadi agen transformasi sosial. Siswa punya tanggung jawab untuk menjadi manusia pintar dan kritis bukan manusia zombie yang bisu dan kosong. siswa harus membuang paradigma yang salah, masuk ke kelas dengan pikiran kosong, diam tanpa diskusi, ulangan dapat nilai bagus. Siwa harus buang jauh – jauh pikiran “yang penting nilainya bagus” apapun caranya. Siswa harus kritis bahwa tak ada lagi yang namanya pengekangan kebebasan, termasuk segala bentuk upaya penyeragaman pikiran dan orientasi akademik yang hanya mengejar angka maupun ijazah yang pada akhirnya hanya menjadi robot-robot kapitalisme.

George Ritzer, sosiolog Amerika dalam bukunya “Mc Donaldization in society” sebagai kritik tentang maraknya restoran cepat saji yang akhirnya memunculkan mentalitas atau budaya yang instan. Ini sudah banyak terjadi dalam dunia pendidikan (mc donaldisasi pendidikan) seperti sikap diam, acuh, cuek, tidak kritis, selalu mengutamakan hasil akhir tanpa mempedulikan proses. Yang parah adalah ketika piiran kosong tidak punya bekal dari rumah, dikelas diam tidak tahu apa-apa, atau dikelas rame sendiri tapi ngga ada isi, terus ketika ulangan masih berharap dapat nilai bagus dengan mencontek. Kalau ini benar – benar ada dalam diri siswa, maka berarti ia telah menjadi siswa zombie, tidak menghargai dirinya sendiri.

Akhirnya perlu sinergi yang baik antara guru dan siswa. Budayakan berdiskusi tanpa perlu ada yang ditakuti selama itu memang benar. Buang jauh – jauh sikap diam, bisu, pikiran yang kosong dengan belajar, membaca, dan diskusi sehingga tidak menjadi siswa zombie. Sekali lagi tentunya butuh sinergi dialog kritis bersama dengan dasar cinta dan harapan untuk perubahan. Seperti yang dikatakan Paulo Freire, “if I do not love the world – if I do not love life – if I do not love people, I can not enter into dialogue”.

About sosmalik
Asli orang "purba", Purbalingga maksudnya. Sekarang mengajar sosiologi di SMANIK...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s