Budaya Pop

pop-culturePada milenium sekarang ini, banyak sekali diperbincangkan tentang budaya pop. Kita sering disuguhi tayangan – tayangan yang konon dikatakan sebagai budaya pop. Nah maraknya budaya pop dikalangan masyarakat kita terutama remaja, kemudian memunculkan tanggapan yang berbeda. Ada yang menyukai sebagai bentuk modernisasi, namun tak sedikit yang antipati sehingga proses diskusi tentang budaya pop tak pernah usang. Nah bagaimana kita mengetahui dan memahami budaya pop? Apa sebenarnya budaya pop itu?

Budaya pop berasal dari budaya populer adalah totalitas ide, perspektif, perilaku, citra, dan fenomena lainnya yang dipilih oleh konsensus informal di dalam arus utama sebuah budaya, khususnya oleh budaya barat di awal hingga pertengahan abad ke-20 dan arus utama global yang muncul pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. Dengan pengaruh besar dari media massa, kumpulan ide ini menembus kehidupan sehari-hari masyarakat.

Budaya populer dipandang sebagai sesuatu yang sepele dalam rangka mencari penerimaan konsensual melalui yang arus utama. Akibatnya, budaya populer muncul dari balik kritisisme sengit dari berbagai sumber nonarus utama (khususnya kelompok-kelompok agama dan kelompok kontra budaya) yang menganggapnya sebagai superfisial, konsumeris, sensasionalis, dan rusak.

Istilah “budaya populer” muncul pada abad ke-19 atau lebih awal untuk merujuk pada pendidikan dan “culturedness” pada kelas bawah. Istilah tersebut mulai menganggap pengertian budaya kelas bawah terpisah (dan terkadang bertentangan dengan) “pendidikan sejati” menuju akhir abad, penggunaan yang kemudian menjadi mapan ketika periode antar perang. Pengertian saat ini atas istilah tersebut, budaya untuk konsumsi massa, khususnya bermula di Amerika Serikat, digunakan pada akhir Perang Dunia II. Bentuk singkatnya “budaya pop” berawal dari tahun 1960-an.

Budaya pop (singkatan dari budaya populer) disebut juga budaya massa karena kontennya diproduksi secara massif untuk tujuan komersialisasi. Ciri-ciri budaya pop antara lain: sangat dipengaruhi oleh media dan pasar, kontennya bersifat universal namun cepat punah dan tergantikan, dan orientasi produksi secara massal. Menurut McQual (1996:38) wujud budaya pop beraneka macam, misalnya: bahasa, tekhnologi, busana, musik, dan tata cara / perilaku. Serta, objek sasaran budaya ini adalah para pemuda.

Perkembangan budaya pop sangat pesat dewasa ini. Proyek dunia perfilman bernama Hollywood menjadi pertanda mulai bangkitnya budaya pop. Hollywood yang mengdominasi perfilman Amerika kemudian mulai menguasai dunia dengan film yang diproduksi. Dalam waktu yang tak lama, Hollywood mampu menyebarkan “Amerikanisasi” di belahan dunia lain. Dengan kekuatan dan ekspose media lewat film, gaya amerika mulai dipraktekan masyarakat di dunia lain dengan mulai banyaknya orang memakai Levi’s dll.

Sejatinya menyebarnya budaya pop sangat dipengaruhi oleh kekuatan media yang membawanya. Media cetak maupun elektronik mempunyai peran yang besar membawa budaya pop sebagai jenis pujaan baru di masyarakat dunia ketiga, seperti Inonesia. Salah satu media yang tak bisa dipungkiri menjadi perantara atau agen penyebar budaya pop ialah Music Television (MTV). Lewat MTV inilah diperkenalkan mengenai musik dan life style yang banyak ditiru remaja diberbagai belahan dunia.

Banyak sekali hal – hal yang berada disekitar kita yang merupakan bagaian dari budaya pop. Seperti menjamurnya gaya hidup ala Mc Donald, pakaian Nike, serta musik – musik populer. Nah sekarang tidak melulu budaya pop dikatakan sebagai proses amerikanisasi gaya hidup manusia diseluruh dunia, sekarang budaya pop juga diadopsi oleh Korea yang saat ini menjadi virus bagi remaja Indonesia. Seolah mereka sebagai dewa yang patut dipuja dan menjadi berhala baru yang layak untuk disandingkan dengan tuhan mereka. Mereka tak lagi mengindahkan nilai – nilai agama, nilai moral, dan nilai sosial yang tumbuh dari kecil, yang sekarang mereka ketahui adalah bagaimana mengkonsumsi musik serta pakaian yang dipakai oleh idola mereka.

Budaya pop mau tidak mau, suka atau tidak suka sudah menjadi bagian yang paling dekat dengan kaum muda terutama di Indonesia. Kita tinggal memilih akan terhanyut oleh berhala atau pujaan terbaru itu atau menjadi bagian yang masif mengcounter budaya tersebut. Kita memang tak bisa menjadi pahlawan kesiangan yang secara tiba – tiba secara frontal melawan arus budaya yang memang sedang mewabah ini. Namun paling tidak kita bisa menjadi filter bagi diri kita untuk tidak terhanyut secara berlebihan terhadap budaya pop tersebut. Sekian …

About sosmalik
Asli orang "purba", Purbalingga maksudnya. Sekarang mengajar sosiologi di SMANIK...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s