Agama dalam Filsafat Marxis

marxDalam bebeapa diskusi filsafat Marxis yang terkenal dari tokoh Karl Marx ini dianggap tidak terlalu mengakomodir agama. Bahkan dalam berbagai momen ada tuduhan serius dari beberapa kalangan yang mengatakan bahwa marxisme itu anti agama dan athein. Nah, bagaimana sebenarnya hal itu? Bagaimana filsafat Marxis memandang agama? Ini menjadibahan menarik yang perlu dibahas sebagai bagian dari kajian keilmua agar kita tidak terjebak pada klaim, tuduhan serta pandangan yang tidak sepenuhnya benar.

Terlebih dahulu perlu dipahami, bahwa tujuan utama dari perjuangan kaum Marxis adalah melakukan transformasi sistem kehidupan masyarakat dari kapitalisme ke arah sosialisme, baik pada skala nasional maupun internasional. Sebagai sebuah sistem, kapitalisme, dalam pandangan kaum Marxis, berwatak sangat menindas, tidak adil dan tidak manusiawi. Eksploitasi sistem kapitalis harus dihentikan dan penciptaan tatanan dunia baru sosialis harus diperjuangkan. Perencanaan yang rasional materialis, historis dan dialektis, serta demokratisasi dalam menjalankan produksi sosial, merupakan langkah awal dalam penciptaan tatanan baru yang lebih tinggi di dalam kehidupan masyarakat di mana relasi antar manusia di dalam produksi sosial menjadi relasi yang manusiawi dan bermartabat.

Kaum Marxis akan terus-menerus menabuh genderang perang melawan sistem ini dan ilusi-ilusi yang telah diciptakannya, yang mengakibatkan penderitaan, penindasan dan kematian bagi jutaan manusia di dunia. Kami sepenuh hati menyambut baik partisipasi dalam perjuangan dari semua elemen-elemen revolusioner, terlepas dari kebangsaan, warna kulit dan keyakinan agama. Kami juga membuka kesempatan untuk berdialog mengenai agama – mengenai apa basis ekonomi dan sosial dari agama di dalam sistem kapitalisme; bagaimana memparadigmakan kembali dan memfungsikan agama sebagai instrumen dalam perjuangan melawan penindasan.

Marx menulis:

“Penderitaan religius, pada saat yang bersamaan, adalah ekspresi dari penderitaan riil dan protes terhadap penderitaan riil tersebut. Agama adalah keluh-kesah makhluk tertindas, jantung-hati dari dunia yang tak berperasaan, dan jiwa dari situasi yang tak berjiwa. Agama adalah candu bagi masyarakat.”

Teks di atas adalah pernyataan Marx paling terkenal dalam kaitannya dengan agama.  Tetapi teks tersebut seringkali disalahpahami, karena para pembaca tidak masuk ke dalam seluruh rangkaiannya dengan jeli. Kalimat “Agama adalah candu bagi masyarakat” sering dikutip dengan pemahaman yang serampangan dan tendensius; dipahami sebagai sikap anti-agama Marx yang vulgar.  Padahal, eksposisi yang sesungguhnya, pernyataan di atas merupakan kritik Marx terhadap masyarakat yang, dalam sistem kapitalisme, telah berubah menjadi kejam, dan oleh karenanya menempatkan agama sebagai pembangkit semangat buat rakyat tertindas agar tetap kuat bertahan. Tetapi, terlepas dari pandangan ateisnya, Marx tidak menjadikan agama sebagai musuh utama dalam karya-karyanya.

Kutipan tulisan Marx di atas menjelaskan bahwa tujuan agama adalah menciptakan fantasi-fantasi bagi kaum miskin. Realitas hidup, kenyataan bahwa kaum miskin tidak mampu mendapatkan kebahagiaan ekonomi, memberikan peluang bagi agama untuk mengatakan bahwa mereka akan menemukan kebahagiaan sejati di kehidupan setelah mati. Ini merupakan teks yang paling pedas dari Marx dalam melukiskan agama. Agama, dalam pandangan ini, adalah seperangkat ide, dan ide-ide merupakan ekspresi dari realitas material. Agama juga merupakan gejala dari suatu penyakit, tetapi bukan penyakit itu sendiri.

Meskipun Marx mengkritisi agama  dengan pedas, tetapi bukan berarti ia berkata tanpa simpati: rakyat tengah berada dalam kesulitan, dan agama telah berkontribusi memberikan penghiburan, sama seperti seseorang yang fisiknya sedang cidera tengah menerima bantuan dari obat-obatan pereda sakit. Tetapi masalahnya adalah, obat-obatan pereda sakit tidak mampu menyembuhkan. Demikian pula agama, tidak mampu memperbaiki penyebab rasa sakit dan penderitaan rakyat. Agama malah membantu mereka untuk melupakan mengapa mereka menderita, dan mengajak mereka untuk melihat kehidupan masa depan yang imajiner.

Untuk memahami filsafat Marxis tentang agama, perlu sekali, sebelumnya, untuk mengeksplorasi gagasan Marx tentang  ‘alienasi’ (keterasingan). Secara sederhana, alienasi dapat didefinisikan sebagai proses yang membatasi kesadaran manusia; yang menahan potensi besar kesadaran manusia untuk memahami realitas hidup yang sesungguhnya. Dalam tulisannya mengenai alienasi, Marx konsen menganalisis proses alienasi dan memeriksa tipe-tipe alienasi tersebut; bagaimana hal itu terjadi dan bagaimana hal itu bisa diselesaikan. Marx juga membuat pengelompokan tipe alienasi, yakni product-alienation (keterasingan dari hasil kerja) dan self-alienation (keterasingan diri).

Apa yang merupakan keterasingan dari hasil kerja? Dalam tulisan-tulisan awal Marx, dijelaskan bahwa kerja telah menjadi sesuatu yang eksternal dengan pekerja. Pekerja merasa tidak menyatu dengan pekerjaannya. Pekerja merasa menderita ketimbang sejahtera. Ia merasa tidak bebas mengembangkan energi fisik dan mentalnya, tetapi malah lelah secara fisik dan direndahkan secara mental. Pekerja merasa dirinya bisa berada di rumah hanya saat waktu senggang, sedangkan di tempat kerja ia merasa tunawisma. Karakter eksternal dari kerja ini secara vulgar juga ditunjukkan oleh fakta bahwa pekerja tidak bekerja untuk dirinya sendiri, tetapi bekerja untuk orang lain, bahwa hasil kerjanya tidak menjadi miliknya, tetapi milik orang lain.

Mengenai keterasingan diri, agama, menurut Marx, merupakan penenang saraf sesaat bagi rakyat tertindas; untuk mengalihkan rasa sakit ketika mendapati dirinya dieksploitasi, direndahkan dan tidak memiliki apa-apa. Akhirnya, agama menjadi jalan pintas yang tepat untuk bersembunyi dari kekalahan; sebuah bentuk pelarian sesaat dari kepenatan.

Catatan Marx mengenai agama, tersimpul dalam dua pokok penilaian: pertama, Marx memandang agama sebagai tindakan protes yang ilusif; yang berbisik tentang harapan-harapan palsu; yang mengajak untuk melupakan penindasan dalam kehidupan; dan, kedua, Marx memandang agama sebagai ideologi, sebagai bangunan suprastruktur, yang berusaha mendistorsi dan menutupi realitas sosio-ekonomi dalam kehidupan nyata.

Dari sini, akhirnya, kami akan menarik kesimpulan yang sangat jelas, bahwa agama, sebagaimana layaknya lembaga-lembaga sosial lain, keberadaan dan coraknya sangat tergantung pada realitas material dan ekonomi dari suatu masyarakat tertentu. Agama tidak memiliki sejarah yang independen, melainkan kreasi dari kekuatan-kekuatan produktif. Dunia religius hanyalah refleks dari dunia nyata. Agama hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan sistem sosial dan struktur ekonomi dari suatu masyarakat. Bahkan, secara ekstrem, bisa dikatakan bahwa agama hanya tergantung penuh pada sistem sosial dan ekonomi masyarakat, tidak pada yang lain, sehingga banyak doktrin-doktrin agama yang samasekali tidak relevan di masa ini. Tetapi, di sini, bukan itu persoalannya, melainkan bagaimana memfungsikan agama sebagai instrumen dalam perjuangan kelas buruh dan kelas tertindas yang lain.

Marxisme tidak menolak praktek agama apapun, bahkan ketika tatanan masyarakat sosialis telah terwujud. Karena posisi subordinatnya dengan realitas ekonomi (sebagai struktur basis), atau lahir karena adanya praktek dari suatu sistem ekonomi  dan kepentingan tertentu, maka agama bukanlah musuh utama dalam perjuangan kaum Marxis. Kaum Marxis percaya, bahwa ketika masyarakat berkelimpahan yang adil sejahtera telah tercapai dalam arti sesungguh-sungguhnya, dalam kata lain ketika sosialisme telah terwujud, agama sebagai pelipur lara rakyat tertindas akan lenyap dengan sendirinya; agama dalam konteks masyarakat kelas dan dalam konteks kapitalisme akan hilang karena sudah tidak dibutuhkan lagi

Sumber: http://www.militanindonesia.org

About sosmalik
Asli orang "purba", Purbalingga maksudnya. Sekarang mengajar sosiologi di SMANIK...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s