BURUH, MUDIK, DAN KAPITALISME

Perayaan Idul fitri menjadi momentum yang sangat dinanti – nanti oleh sebagian besar rakyat Indonesia terutama yang muslim. Idul fitri atau lebaran tidak juga dimaknai sebagai proses spiritual namun juga sebagi proses sosial. Sehingga bagi masyarakat Indonesia berkumpul dengan keluarga menjadi suatu keharusan. Mereka yang kesehariannya jauh dari sanak saudara berbondong – bondong untuk pulang ke kampung halamannya, atau sering kita sebut mudik.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tradisi mudik terbesar di dunia, tepatnya menjelang hari raya Idul Fitri. Hal ini menunjukan bahwa tingkat urbanisasi di Indonesia sangat besar sekaligus menunjukan bahwa pembangunan di Indonesia belumlah merata karena masih terpusat di kota. Hampir sebagian besar pelaku urbanisasai ke perkotaan bekerja menjadi buruh di perusahaan – perusahaan. Buruh pun menjadi penyumbang besar dalam fenomena mudik lebaran.
Ada hal unik yang bisa kita lihat dari perilaku mudik yang biasanya ditunjukan oleh kaum buruh. Buruh yang bekerja di perkotaan merupakan tulang punggung keluarganya di kampung halaman. Ini menjadi sebuah tantangan sekaligus tekanan bagi kaum buruh untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menunjukan bahwa ia layak menjadi tumpuan hidup keluarganya. Oleh karena itu momen mudik lebaran dijadikan sebagai momentum membahagiakan keluarganya dari hasil jerih payah sekaligus tak sedikit yang menjadikan mudik lebaran ini sebagai simbol prestisius untuk menunjukan kepada orang dikampung bahwa ia telah menjadi orang sukses.
Hal ini kemudian menjadi hal yang sangat berkebalikan. Buruh yang selama bekerja diperkotaan sering kali menunjukan ketidakberdayaannya terhadap pemilik modal. Mereka menjadi kuli yang diperas tenaganya dengan upah yang terkadang kurang layak. Selain itu, buruh merupakan simbol perjuangan kaum proletar untuk melawan dominasi kaum modal atau kaum kapitalis. Bahkan hampir setiap tanggal 1 Mei selalu bertebaran demonstrasi buruh untuk menuntut upah yang layak. Demontrasi itu juga seringkali dilakukan dengan membakar, merusak simbol – simbol kapitalisme yang dianggap mencekik kaum buruh. Kalau dalam istilah Karl Marx, buruh mengalami alienasi yaitu keterasingan yang terjadi jika semakin banyaknya modal terkumpul untuk Kapitalis, dan semakin miskin pula si Buruh akibat dari hasil eksploitasi si kapitalis. Itulah yang sejatinya dialami kaum buruh.
Namun, fenomena mudik menjadi pengecualian. Buruh yang bekerja diperkotaan ketika melakukan tradisi mudik seringkali mereka mempunyai hasrat untuk menunjukan kesuksesannya dikampung halaman. Ketika berada dikampung halaman, kita seringkali melihat orang yang bekerja di kota besar menunjukan gaya hidup yang gemerlap, dengan pakaian yang bagus dan terkesal fashionable, serta berlomba – lomba memamerkan apa yang dibawa dari kota. Mereka seolah mau menunjukan bahwa hidup diperkotaan adalah sebuah kesenangan dan kemewahan. Mereka mau menunjukan bahwa bekerja diperkotaan sebagai buruh bisa menjajikan kehidupan yang maju, sukses, dan berhasil. Sehingga menarik minat saudara, kawan, tetangga, serta orang lain dikampungnya untuk mengikuti jejaknya merantau ke perkotaan menjadi buruh. Hai ini menjadi sesuatu yang bertolak belakang dengan nasib mereka ketika di perantauan. Ini boleh jadi dikatakan bahwa ketika diperkotaan buruh menjadi alat perjuangan melawan kapitalisme, namun ketika mudik mereka justru menjadi semacam sales bagi kapitalisme.

About sosmalik
Asli orang "purba", Purbalingga maksudnya. Sekarang mengajar sosiologi di SMANIK...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s