Nasib si Tajir dan si Miskin

al kisah di negeri antah berantah, ada seorang pemuda tajir yang hobi kebut – kebutan. Barangkali dia adalah salah satu orang tajir di negeri yang dianggap sumir bagi sebagian rakyatnya. Ya…rakyatnya mau sekolah saja susah, mau pergi ke desa sebelah pun harus menyeberangi sawah atau terengeh – engah menyusuri jembatan yang hampir patah. Mereka tak pernah menyerah dan tak pernah marah di lahirkan di negeri yang sepertinya sudah ikut terengah – engah.
 
Si pemuda tajir yang hobi kebut-kebutan ini emang jago, dia ikutan lomba kebut – kebutan dan beberapa kali menang, ya…maklum lah orang tajir pasti bisa hobi kebut – kebutan di arena yang megah. Ya…untuk kesenangan serta promosi industri kapitalisme bernama mobil dan motor. Suatu ketika si pemuda ini, kekurangan biaya untuk ikut kebut-kebutan. Ya…kurang biaya untuk setor pada konglomerat kebut-kebutan itu. Merengeklah dia pada negara yang sudah terengah – engah ini, bukan satu atau dua juta atau seratus juta. kalau segitu si pemuda tajir dan keluarganya pasti mampulah. tapi bermilyar – milyar.

 
Ah ternyata yang merengek tak cuma si pemuda tajir, tapi penggemarnya para kelas menengah pun ikutan merengek. Sampai – sampai mereka pun pada puncaknya merasa kasihan akan kemalangan si pemuda tajir. Ya pemuda tajir itu sungguh MALANG karena hampir gagal merengek minta uang miliaran untuk ikut kebut – kebutan. Saking gemesnya para pendukungnya si kelas menengah ini rame – rame nulis di media sosial akan kekecewaan pada negara yang tak bisa memberi miliaran rupiah untuk ikut kebut – kebutan.
 
sampai pada akhirnya sumpah serapah dan saran pun terlontar dari banyak kelas menengah ini, bahwa si pemuda tajir ini memang malang dilahirkan di negara yang terengah – engah ini. Mereka bahkan rela untuk melihat di pemuda tajir jago kebut – kebutan ini pindah negara saja. “Percuma hidup di negeri ini ngga di hargai jasanya” begitu kata kelas menengah ini.
 
Saran dan masukan dari kelas menengah yang paling “kritis dan kepekaan sosialnya paling tinggi” ini sungguh heroik.
 
sampe – sampe rakyat miskin jelata mengamininya. ” Lha mbok hoo kono pindah wae, njaluk duit milyaran ora di kei kok nesu. lha kui duit milyaran yo ono hak ku mbarang, aku yo biasa wae. Njaluk sewu rong ewu ning bangjo, neng koe – koe malah di ceramahi merusak pemandangan dan penyakit sosial. Ndang kono lungo wae” kata si miskin.
 
ya di negeri antah berantah yang masih terengah – engah ini, nasih orang tajir itu dianggap lebih “MALANG’ di banding nasib si miskin. Barangkali si miskin tak bsa menawarkan kebanggan semu, dan gaya hidup yang kapitalistik yang memang saat ini menjadi role model kelas menengah.
 
Akhir kisah, si pemuda tajir ini pun semakin di cintai dan mendapat simpati dari kelas menengah, karena rengekan minta duit milyaran juga di barengi sholat tahajud yang beritanya sampe kemana – mana. Ya sholat tahajud pemuda tajir ini memang lebih menjual simpati di bandingkan sholat tahajud si miskin yang sama sekali tak menjual. Walau tahajud tetep miskin, ya begitulah si miskin yang tetep istikomah tak pernah mengeluh sambil selalu melantunkan pengharapan sederhana, bukan minta duit milyaran atau minta mobil mewah, atau minta disantuni negara tapi sekedar bisa makan “munthul” sambil ngopi tiap hari.
 
_Tamat_

About sosmalik
Asli orang "purba", Purbalingga maksudnya. Sekarang mengajar sosiologi di SMANIK...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s