Masyarakat Jawa Perkotaan

Ini tulisan lama yang diambil hamper sebagian besar sumbernya adalah buku yang paling fenomenal dari Cliford Geertz, The Religion of Java. Dimana menurut buku tersebut, Setelah berakhirnya perang dunia II, orang jawa yang tinggal diperkotaan umumnya terbagi kedalam tiga lapisan sosial yaitu: 1. Golongan orang biasa dan pekerja kasar, 2. Golongan pedagang, dan 3. Golongan pegawai pemerintahan. Sebelum perang dunia II di yogyakarta dan surakarta masih ada satu golongan sosial lain yaitu kaum bangsawan Jawa.
Golongan pekerja kasar ( orang biasanya menyebut tiyang alit ) merupakan jumlah terbanyak dari seluruh penduduk kota. Tiyang alit ini meliputi pedagang kecil, buruh kecil, dan tukang yang banyak ada di pasar. Kebanyakan penduduk kota di atas tinggal di daerah miskin kota.

Golongan yang kedua yaitu pedagang dimana pedagang sendiri ada bermacam – macam. Dalam hal masyarakat jawa, pedagang pribumi yang berada di kota-kota Jawa sering disebut sodagar . pedagang pribumi biasanya mengisi sektor – sektor yang belum digarap oleh orang Tionghoa, yaitu perdagangan tengkulak hasil bumi seperti tembakau, serta komoditi lain seperti tekstil, kerajinan rumah tangga dll. Ada juga sodagar yang memilii usaha yang lebih besar seperti perusahaan batik tulis, serta ada juga yang mendirikan perusahaan rokok kretek. Read more of this post

Advertisements

Mendudukan bisnis dalam ranah sosiologis

Berawal dari “Japri” di aplikasi Whats apps, Ilman Hakim si pemuda gundul yang mirip biksu shaolin yang sedang menuju ke barat mencari kitab suci, mengatakan ingin menitipkan tulisannya di blog ini boleh kah? Aku jawab boleh sekali, tapi tidak gratis karena ini blog lumayan hits. hahaha… Akhirnya setelah melihat tulisan ternyata tak ada judul, dan rupanya dia sengaja tak memberi judul dengan maksud katanya memberi “mell” pemilik blog dengan membrikan judul. Aku jawab, “mell” e kok kon gawe judul. Ini pemlekotoan bukan mell. Ya…tapi itulah si gundul rupanya sedang menilik bisnis dalam ranah sosiologis. lebih jelas, dibaca saja berikut ini. yuk…

Gerakan sosialisme di Inggris 1847, sedikit demi sedikit memperbaiki keadaan nasib kaum buruh dengan dituntutnya peraturan hukum yang akhirnya berhasil dengan efektif membatasi jam kerja 10 jam, Marx dan Engels menyebutnya dengan “the ten hours bill” (baca manifesto komunis).

Studi sejarah menunjukan bahwa mengambil keuntungan secara berlebih sebagai tujuan ekonomis memang berakibat kurang etis, karena memaksa pekerja/pegawainya bekerja melampaui batas maksimal jam kerja. Ini pelajaran penting tentang perlunya managemen yang inovatif dan etis.

Mari belajar bisnis dengan sosiologi. Sebagai pengusaha yang bergerak dibidang bisnis harusnya belajar pada sejarah diatas, agar dapat berbisnis dengan cantik dan tidak berkonfrontasi secara terbuka dengan apa yang menjadi elemen yang dibisniskanya. Semisal dengan kaum pekerjanya, dengan perkembangan zaman, dengan bahan baku, atau dengan jenis jasa yang hendak disediakan dan seterusnya. Inilah pentingnya pelajaran atau hikmah sejarah agar tidak terjadi kepahitan yang sudah dialami para pendahulunya

Tidak bisa disangkal, pertimbangan etis menjadi peranan penting dalam bisnis, yang kemudian menjadi catatan penting dalam etis adalah apa yang ditawarkan dalam ke-etis-an tersebut? Bukankah persoalan keindahan dan kenyamanan? Read more of this post

Pancasila sudah sering di hina

Beberapa hari ini netizen ramai membicarakan Saskia Gotik, penyanyi dangdut yang konon punya goyang itik. Tapi entah kenapa aku tak pernah melihat ada kesamaan dia dengan itik. Atau mungkin karena hanya joget menggoyangkan “bokong” saja terus disamakan dengan itik. Ya…tapi demikian industri menjualnya, dengan menggerakan “bokong” menjadi tren mark dirinya. Namun, yang sedang rame dibicarakan oleh netizaen (pengguna internet) adalah perilaku Saskia Gotik yang dianggap menghina lambang negara. Konon, penyanyi dangdut itu mengatakan dengan nada candaan bahwa sila kelima pancasila itu lambangnya adalah bebek nungging. Lantas netizen rame menghujat karena tindakanya adalah bentuk penghinaan terhadap Pancasila. Wuih…berat bener.

Para netizen yang amat sangat pancasilais jelas langsung menghujat, ini adalah makanan empuk untuk dihujat dan dinyinyir. Hujatan yang punya pembenaran konstitusional mungkin ya, karena hujatan ditujukan kepada pelaku diduga penghinaan terhadap lambang negara. Bahkan lebih jauh, ada anggota DPD kita yang melaporkan penyanyi dangdut ke kepolisian. Wuih…panjang urusanya ini.

Namun, marilah kita cermati sembari kalian tuntaskan hujatan kalian. Persoalan pancasila, pernahkah kita pikirkan bahwa lambang negara yang tak Cuma simbol tapi juga ideologi bangsa ini sudah lama dihina oleh banga ini. Penghinaan sejatnya tidak Cuma mengejek lambang atau mempermainkan lambang, namunj penghinaan besar justru ketika bangsa ini tak menjalankan ideologinya., tak menjalankan sila – sila pancasila. Bangsa ini belum serius menjalankan pancasila secara kafah. Kita lihat saja, beberapa sila bahkan seringkali tak dijalankan dengan benar. Sila pertama, sila kedua, dan sila kelima paling sering dilanggar. Artinya apa? Penghinaan berupa pengabaian pada cita – cita bangsa yang tercantung dalam sila pancasila memang terjadi,

Read more of this post

BURUH, MUDIK, DAN KAPITALISME

Perayaan Idul fitri menjadi momentum yang sangat dinanti – nanti oleh sebagian besar rakyat Indonesia terutama yang muslim. Idul fitri atau lebaran tidak juga dimaknai sebagai proses spiritual namun juga sebagi proses sosial. Sehingga bagi masyarakat Indonesia berkumpul dengan keluarga menjadi suatu keharusan. Mereka yang kesehariannya jauh dari sanak saudara berbondong – bondong untuk pulang ke kampung halamannya, atau sering kita sebut mudik.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tradisi mudik terbesar di dunia, tepatnya menjelang hari raya Idul Fitri. Hal ini menunjukan bahwa tingkat urbanisasi di Indonesia sangat besar sekaligus menunjukan bahwa pembangunan di Indonesia belumlah merata karena masih terpusat di kota. Hampir sebagian besar pelaku urbanisasai ke perkotaan bekerja menjadi buruh di perusahaan – perusahaan. Buruh pun menjadi penyumbang besar dalam fenomena mudik lebaran. Read more of this post

Budaya Pop

pop-culturePada milenium sekarang ini, banyak sekali diperbincangkan tentang budaya pop. Kita sering disuguhi tayangan – tayangan yang konon dikatakan sebagai budaya pop. Nah maraknya budaya pop dikalangan masyarakat kita terutama remaja, kemudian memunculkan tanggapan yang berbeda. Ada yang menyukai sebagai bentuk modernisasi, namun tak sedikit yang antipati sehingga proses diskusi tentang budaya pop tak pernah usang. Nah bagaimana kita mengetahui dan memahami budaya pop? Apa sebenarnya budaya pop itu?

Budaya pop berasal dari budaya populer adalah totalitas ide, perspektif, perilaku, citra, dan fenomena lainnya yang dipilih oleh konsensus informal di dalam arus utama sebuah budaya, khususnya oleh budaya barat di awal hingga pertengahan abad ke-20 dan arus utama global yang muncul pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. Dengan pengaruh besar dari media massa, kumpulan ide ini menembus kehidupan sehari-hari masyarakat.

Budaya populer dipandang sebagai sesuatu yang sepele dalam rangka mencari penerimaan konsensual melalui yang arus utama. Akibatnya, budaya populer muncul dari balik kritisisme sengit dari berbagai sumber nonarus utama (khususnya kelompok-kelompok agama dan kelompok kontra budaya) yang menganggapnya sebagai superfisial, konsumeris, sensasionalis, dan rusak. Read more of this post

Menghentikan Kekerasan Agama

Ada beberapa cara untuk mengakhiri kekerasan seperti ditawarkan oleh Marx Juergensmeyer dalam bukunya Terror in The Mind of God: The Global Rise of Religious Violence.

Skenario pertama merupakan salah sau dari solusi yang dilakukan melalui kekuatan. Ia meliputi contoh-contoh yang di dalamnya teroris-teroris dibinasakan atau dikendalikan dengan jalan kekerasan.

Cara yang dianggap solusi ini pada kenyataannya bukan solusi yang baik, karena setiap kekerasan yang dihadapi kekerasan akan menimbulkan kekerasan baru. Inilah yang dilakukan oleh Amerika ketika mendeklarasikan perang total melawan terorisme agama dan melaksanakannya selama bertahun-tahun. Penggunaan kekuatan untuk menghancurkan terorisme tidak jarang hanya merupakan manipulasi untuk membenarkan kepentingan di balik itu. Misalnya apa yang dilakukan oleh Amerika  terhadap Osama bin laden bukankah ada kepentingan dibalik misi Amerika melakukan penyerangan terhadap Osama baik dari segi kepentingan ekonomi, politik dan lain-lain seperti yang disinyalir oleh surat-surat kabar belakangan ini ? Karena itu, kekerasan yang dihadapi dengan kekerasan bukan merupakan solusi untuk mencegah kekerasan itu sendiri karena di samping akan menimbulkan kekerasan baru yang mungkin memakan korban lebih besar juga penggunaan sarat dengan nuansa kepentingan untuk menegakkan hegemoni seperti kasus Amerika itu.

Skenerio kedua seperti ditawarkan Marx Juergensmeyer adalah dalam bentuk ancaman pembalasan dengan kekerasan atau pemenjaraan untuk menakut-nakuti aktivis-aktivis keagamaan sehingga mereka ragu-ragu untuk beraksi. Cara ini pun dianggap tidak efektif, karena meski para aktivis itu diancam atau dipenjara, bahkan dibunuh sekalipun tidak akan berpengaruh terhadap para aktivis keagamaan lainnya Read more of this post

Lebaran dalam lingkar Konsumerisme

Lebaran akan tiba, artinya akan ada peristiwa yang meriah yang dirayakan sebagaian besar masyarakat Indonesia. Lebaran atau hari raya idul fitri selalu menampilkan kesemarakan setelah usai menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Fenomena mudik, belanja, dan kemewahan menjadi tontonan yang akan terlihat di lebaran. Ini adalah kewajaran ataukah memang perilaku laten dari sebuah ritual kegamaan.

Secara harfiah idul fitri sejatinya adalah kembali ke fitroh (suci) artinya kembali kepada kesucian dari noda – noda duniawi. Namun yang terjadi balutan baju dan berbagai ornamnenya lah yang nampak. Mall seperti lautan manusia yang hanya ingin belanja untuk merayakan lebaran. Sebegitukah makna lebaran??? Haruskah seperti itu? Atau sebenarnya ada yang lebih penting dari itu???

Entahlah apa yang dipikirkan orang kebanyakan. Kita sudah digembleng dengan puasa artinya melatih untuk hidup sederhana untuk peka terhadap sesama yang tidak bisa makan. Ramadhan sejatinya adalah kepekaan sosial untuk bisa merasakan apa yang dialami oleh manusia lain yang hidup digaris kemiskinan. Namun menjelang lebaran justru yang terjadi adalah konsumerisme yang membabi buta. Lebaran terkungkung dalam jerat konsumerisme.

Lebaran tak lagi sebagai hanya sekedar ritus agama, namun sebagai bukti eksistensi seseorang selama setahun. Mereka membeli pakaian bagus, barang elektronik yang canggih sebagai lambang untuk tunjukan eksistensinya. Makna keagamaan semakin abu-abu dengan budaya “pamer” yang sudah terjadi.

Yang menarik juga ternyata ustad-ustad muda yang sok “gaul” bukan memberikan dakwah kesederhanaan namun justru memberikan contoh tentang kemewahan, konsumerisme, dll. Ini jelas telah mengaburkan makna agama yang penuh kesederhanaan. Agama dan ritualnya menjadi mahal karena sikap konsumerismenya. Agama menjadi komoditi untuk memancing konsumerisme umat. Kapitalislah yang tertawa dapat keuntungan. Sekian…